Maulana Ahmad Taufiq

Maulana Ahmad Taufiq adalah putra dari pasangan KH. Mahfudz dan Ny. Hj. Lutfiyatul Chilmiyah, pendidikan sejak kecil belajar Alquran bersama kakeknya KH. Muslich Misbahuddin, juga dengan ayahnya sendiri, juga pernah dengan KH. Achmad Faruqi.

Pendidikan Dasarnya adalah dari MI Mirfa’ul Ulum, kemudian melanjutkan ke MTs Darul Hasanah, beliau adalah murid pertama kali yang masuk di MTs Darul Hasanah sejak awal berdiri, sehingga beliau mengenal baik perjuangan guru-guru di masa awal berdiri tersebut, banyak tokoh yang terlibat saat itu dan memberi inspirasi, juga mengenal beberapa anggota keluarga yang ikut mengajar di madrasah.

Pendidikan tingkat atas diselesaikan di MAN 02 Semarang, kemudian melanjutkan ke Program Sarjana (S1) Sistem Komputer di STEKOM, pendidikan di luar itu, beliau menyelesaikan bacaan Alquran sebagian dengan Ny. Hj. Maunah Pondok Pesantren Al Mubarok Mranggen dan berakhir selesai bacaan Alquran dengan Ny. Hj. Sa’adah, semasa sehatnya Ny. Hj. Sa’adah juga memberi pengajaran Tafsir dan Hadis, serta belajar Fiqh dan Manaqib dibantu dengan orang dalam seperti Kang Faizin, Kang Tamzis, Kang Shiroth, yang berjasa memberi pendidikan kepada Taufiq.

Di akhir semasa belajar, sempat bertemu kakeknya (Mbah Bilal) ikut serta ijazah manaqib dengan Ny. Hj. Sa’adah, ijazah beberapa kali, setelah beberapa tahun berlalu, ia tertarik berbaiat Thariqah Qadariyah Naqsabandiyyah, sedangkan Taufiq sendiri tidak ikut karena sebelumnya sudah mengikuti ayahnya yaitu Thariqah Naqsabandiyyah Kholidiyyah.

Lulus S1 Sistem Komputer STEKOM, kemudian beliau melanjutkan ke Unissula jurusan Pendidikan Agama Islam, setelah beberapa semester berlalu, beliau terkendala perubahan jam mengajar di madrasah, pada akhirnya beliau memutuskan pindah ke Universitas Wahid Hasyim Semarang pada jurusan yang sama.

Kesibukan lain di waktu senggang adalah menjadi seksi Pengembangan Sumber Daya Manusia di KKG MI Kecamatan Genuk, pembantu untuk sekretaris Takmir Masjid Baitul Quddus, dan Sekretaris di Yayasan Amal Sholeh Semarang.

Maulana Ahmad Taufiq sempat berfikir kenapa nasib berputar di sekitar rumah, sedangkan sebagian keluarganya berada di tempat yang jauh, ada yang di Jepara, Malaysia, Singapura, Blora, Mranggen, pekerjaannya pun jauh-jauh juga pilihannya, inginnya ikut-ikutan juga.

Suatu hari ia bermimpi melihat mbah buyutnya (Mbah Halimah), kemudian ia teringat makam di belakang Masjid Baitul Quddus, dua makam itu adalah Kyai Moch Hisyam dan Ny. Hj. Halimah, beliau sempat melakukan test dengan siswa-siswi apakah mereka tahu ada makam di belakang masjid, ternyata selama bertahun-tahun mereka tidak tahu, karena tidak ada yang memberitahu. Saat itu agar tidak mengganggu jam ekstra beladiri hari Jumat, siswa-siswi Kelas 4 diwajibkan setiap hari Kamis selesai sholat dhuha wajib melaksanakan kegiatan doa bersama, di sekitar makam.

Pada akhirnya ada guru yang ingin agar kegiatan doa bersama tidak dilaksanakan sendiri tapi dilaksanakan bersama, sehingga kegiatan tersebut dilaksanakan setiap Jumat.

Setiap kegiatan Tahlil/Doa bersama tersebut, beliau terkadang tiba-tiba teringat ucapan kepala sekolah di masa lalu Hj. Bachriyati, ia bercerita bermimpi melihat masjid itu tampak tinggi, dan dari jalan tampak kain berbaris warna putih dan terdengar keras “Laila ha illallah …”, begitu juga Almarhum H. Imam Munadjad, juga pernah menyampaikan sambutan optimisme bahwa Masjid dan Madrasah akan baik, ia bermimpi melihat sekeliling Masjid tampak berwarna putih dan mendengar orang-orang berdzikr.

Hingga saat ini kesibukan rutin Maulana Ahmad Taufiq adalah menjadi guru Kelas 4, mengelola situs taufiq.id  dan kkggenuk.or.id, dan sesekali mengelola data Education Management Information System Kemenag, dan Sabtu – Minggu belajar di Universitas Wahid Hasyim Semarang.

Ilmu tak bertepi sehingga ia hanya membatasi hobi belajar pada kajian Manajemen Pendidikan, Psikologi Pembelajaran, Manajemen Database, Kajian Fiqh dan Ushul Fiqh, serta Tafsir dan Hadis saja.

Subscribe

Terima kasih menjadi pelanggan berita kami

No Responses

Tinggalkan Balasan