Connect with us

Kajian Pendidikan

Makna Allah Al Hasib

Published

on

Jum’at, 10 Nopember 2017, seperti biasanya madrasah menyelenggarakan do’a bersama di Masjid Baitul Quddus Semarang, kegiatan diawali dengan bacaan Asmaul Husna,  kajian Asma Alhusna oleh Maulana Ahmad Taufiq, bacaan tahlil dan do’a diisi oleh Nur Faizin, SHI. dan Wiwin Ari Setianto, S.Pd.

Kajian jum’at ini adalah tentang Al Hasib, yang berarti Yang Maha Mencukupi.

Dalam Alqur’an Allah telah mengenalkan dirinya yaitu, Dialah Allah yang Maha Esa, Allah kekal selamanya, walau manusia di akhirat hidup kekal di akhirat, keabadian itu berbeda dengan Allah swt., sebab Allah sudah ada sejak awal dan kekal selamanya, sedangkan manusia dulu tidak ada, kemudian ada, kemudian mati, kemudian dihidupkan kembali, dan semua atas kehendak Allah swt.

Perbedaanya lainnya adalah Allah yang abadi Dia satu, sedangkan manusia, bukan tuhan ia mempunyai pasangan, sebagaimana disampaikan dalam Alquran, bahwa kepada penghuni surga Allah memberi  mereka pasangan yang disucikan dan tempat kediaman.

Istri Nabi Muhammad saw. bertanya kepadanya tentang seorang wanita yang telah bersuami lalu meninggal, kemudian wanita itu menikah lagi, jika keduanya di dalam surga, dengan siapakah istri itu tinggal?. Maka Nabi saw. menyampaikan bahwa ia (istri) dapat memilih, dan sesungguhnya akhlak/ budi luhur memiliki keutamaan.

Hal ini memberi isyarat bahwa seseorang yang memiliki pasangan hidup di dunia, kelak akan hidup bersama di akhirat, sedangkan mereka yang belum mengetahui pasangannya di dunia, Allah swt. menciptakan pasangannya secara langsung tanpa perantara ayah dan ibu.

Hal ini mengingatkan kepada manusia agar tidak menyia-siakan kekasihnya selama hidup di dunia, sebab ia adalah teman hidup abadinya di akhirat. Dan jika ia melihat kekurangan kekasihnya, bisa jadi Allah menciptakan pada dirinya kebaikan lainnya yang banyak.

Selain itu juga menyadari bahwa manusia itu lemah, terkadang tidak mampu memenuhi yang kita harapkan, sehingga tempat kita bertumpu harapan seharusnya adalah kepada Allah swt. (QS. Al-Ikhlas) tidak mengandalkan manusia, dan melatih mandiri. sesungguhnya Allah swt. memiliki sifat Al-Hasib (Yang Maha Mencukupi).

 

Continue Reading
Comments

Kajian Pendidikan

Penggunaan Buku Penghubung

Published

on

Melalui program Sekolah Literasi Indonesia, madrasah akan memberi buku penghubung yang wajib diisi orang tua dan guru, pengisian buku ini meliputi:

Diisi orang tua:

  • Pelaksanaan Sholat wajib dan beberapa kegiatan anak lainnya
  • Catatat perkembangan siswa (diisi oleh orang tua dan guru)

Diisi oleh guru: Prestasi yang dicapai pekan ini

Dengan adanya buku penghubung, diharapkan ada sinergi antara orang tua dan guru. Saat ini MI Mirfa’ul Ulum menyelenggarakan pendidikan berbasis IR. 4.0, jika ada hal-hal yang tidak tercakup dalam buku penghubung, orang tua juga dapat konsultasi langsung dengan guru melalui WhatsApp atau menggunakan layanan jejaring sosial.

Butuh bantuan? Klik >> hubungi Madrasah

Continue Reading

Kajian Pendidikan

Pembenahan Pendidikan Nasional Melalui Penguatan Pendidikan Karakter

Published

on

Penguatan karakter menjadi salah satu program prioritas pemerintah. Dalam nawa cita disebutkan bahwa pemerintah akan melakukan revolusi karakter bangsa. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengimplementasikan penguatan karakter penerus bangsa melalui gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK)  sejak tahun 2016.

Pendidikan karakter pada jenjang pendidikan dasar mendapatkan porsi yang lebih besar dibandingkan pendidikan yang mengajarkan pengetahuan. Untuk sekolah dasar sebesar 70 persen, sedangkan untuk sekolah menengah pertama sebesar 60 persen.

Tak hanya olah pikir (literasi), PPK mendorong agar pendidikan nasional kembali memperhatikan olah hati (etik dan spiritual) olah rasa (estetik), dan juga olah raga (kinestetik). Keempat dimensi pendidikan ini hendaknya dapat dilakukan secara utuh-menyeluruh dan serentak. Integrasi proses pembelajaran intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler di madrasah dapat dilaksanakan dengan berbasis pada pengembangan budaya sekolah maupun melalui kolaborasi dengan komunitas-komunitas di luar lingkungan pendidikan.

Lima Nilai Karakter Utama

Terdapat lima nilai karakter utama yang bersumber dari Pancasila, yang menjadi prioritas pengembangan gerakan PPK; yaitu (1) religius, (2) nasionalisme, (3) integritas, (4) kemandirian dan (5) kegotongroyongan. Masing-masing nilai tidak berdiri dan berkembang sendiri-sendiri, melainkan saling berinteraksi satu sama lain, berkembang secara dinamis dan membentuk keutuhan pribadi.

Nilai karakter religius mencerminkan keberimanan terhadap Tuhan yang Maha Esa yang diwujudkan dalam perilaku melaksanakan ajaran agama Islam, menghargai perbedaan agama, menjunjung tinggi sikap toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama dan kepercayaan lain, hidup rukun dan damai dengan pemeluk agama lain. Implementasi nilai karakter religius ini ditunjukkan dalam sikap cinta damai, toleransi, menghargai perbedaan agama dan kepercayaan, teguh pendirian, percaya diri, kerja sama antar pemeluk agama dan kepercayaan, anti perundungan dan kekerasan, persahabatan, ketulusan, tidak memaksakan kehendak, mencintai lingkungan, melindungi yang kecil dan tersisih.

Nilai karakter nasionalis merupakan cara berpikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa, menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya. Sikap nasionalis ditunjukkan melalui sikap apresiasi budaya bangsa sendiri, menjaga kekayaan budaya bangsa, rela berkorban, unggul, dan berprestasi, cinta tanah air, menjaga lingkungan, taat hukum, disiplin, menghormati keragaman budaya, suku, dan agama.

Adapun nilai karakter integritas merupakan nilai yang mendasari perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan, memiliki komitmen dan kesetiaan pada nilai-nilai kemanusiaan dan moral. Karakter integritas meliputi sikap tanggung jawab sebagai warga negara, aktif terlibat dalam kehidupan sosial, melalui konsistensi tindakan dan perkataan yang berdasarkan kebenaran. Seseorang yang berintegritas juga menghargai martabat individu (terutama penyandang disabilitas), serta mampu menunjukkan keteladanan.

Nilai karakter mandiri merupakan sikap dan perilaku tidak bergantung pada orang lain dan mempergunakan segala tenaga, pikiran, waktu untuk merealisasikan harapan, mimpi dan cita-cita. Siswa yang mandiri memiliki etos kerja yang baik, tangguh, berdaya juang, profesional, kreatif, keberanian, dan menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Nilai karakter gotong royong mencerminkan tindakan menghargai semangat kerja sama dan bahu membahu menyelesaikan persoalan bersama, menjalin komunikasi dan persahabatan, memberi bantuan/pertolongan pada orang-orang yang membutuhkan. Diharapkan siswa dapat menunjukkan sikap menghargai sesama, dapat bekerja sama, inklusif, mampu berkomitmen atas keputusan bersama, musyawarah mufakat, tolong menolong, memiliki empati dan rasa solidaritas, anti diskriminasi, anti kekerasan, dan sikap kerelawanan.

Penguatan Tri Pusat Pendidikan

PPK tidak mengubah struktur kurikulum, namun memperkuat Kurikukum 2013 yang sudah memuat pendidikan karakter itu. Dalam penerapannya, dilakukan sedikit modifikasi intrakurikuler agar lebih memiliki muatan pendidikan karakter. Kemudian ditambahkan kegiatan dalam kokurikuler dan ekstrakurikuler. Integrasi ketiganya diharapkan dapat menumbuhkan budi pekerti dan menguatkan karakter positif anak didik.

PPK mendorong sinergi tiga pusat pendidikan, yaitu sekolah, keluarga (orang tua), serta komunitas (masyarakat) agar dapat membentuk suatu ekosistem pendidikan. Diharapkan manajemen berbasis sekolah semakin menguat, di mana sekolah berperan menjadi sentral, dan lingkungan sekitar dapat dioptimalkan untuk menjadi sumber-sumber belajar.

Mengembalikan Jati Diri Guru

Peran guru sangat penting dalam pendidikan dan ia harus menjadi sosok yang mencerahkan, yang membuka alam dan pikir serta jiwa, memupuk nilai-nilai kasih sayang, nilai-nilai keteladanan, nilai-nilai perilaku, nilai-nilai moralitas, nilai-nilai kebhinnekaan. Inilah sejatinya pendidikan karakter yang menjadi inti dari pendidikan yang sesungguhnya.

Kunci kesuksesan pendidikan karakter terletak pada peran guru. Sebagaimana ajaran Ki Hajar Dewantara, “ing ngarso sung tuladho, ing madyo mbangun karso, tut wuri handayani”, maka seorang guru idealnya memiliki kedekatan dengan anak didiknya. Guru hendaknya dapat melekat dengan anak didiknya sehingga dapat mengetahui perkembangan anak didiknya. Tidak hanya dimensi intelektualitas saja, namun juga kepribadian setiap anak didiknya.

Tak hanya sebagai pengajar mata pelajaran saja, namun guru mampu berperan sebagai fasilitator yang membantu anak didik mencapai target pembelajaran. Guru juga harus mampu bertindak sebagai penjaga gawang yang membantu anak didik menyaring berbagai pengaruh negatif yang berdampak tidak baik bagi perkembangannya. Seorang guru juga mampu berperan sebagai penghubung anak didik dengan berbagai sumber-sumber belajar yang tidak hanya ada di dalam kelas atau sekolah. Dan sebagai katalisator, guru juga mampu menggali dan mengoptimalkan potensi setiap anak didik.

Saat ini, melalui revisi Peraturan Pemerintah Nomor 64 Tahun 2008 menjadi PP Nomor 19 Tahun 2017, Kemendikbud mendorong perubahan paradigma para guru agar mampu melaksanakan perannya sebagai pendidik profesional yang tidak hanya mampu mencerdaskan anak didik, namun juga membentuk karakter positif mereka agar menjadi generasi emas Indonesia dengan kecakapan abad ke-21.

Continue Reading

Berprestasi

Yang menjadikan orang iri

Published

on

Ada 4 hal yang ada dalam diri seseorang sehingga dapat menyebabkan orang lain menjadi iri, atau akan berusaha menyainginya yaitu apabila ia memiliki salah satu dari berikut:

  1. Kecantikan/ Ketampanan
  2. Kecerdasan/ Prestasi
  3. Kekayaan
  4. Perhatian seseorang terhadap dirinya

Dalam kaidah ilmu sosial lainnya disampaikan bahwa seseorang tidak akan rela jika ada orang lebih baik darinya kecuali anak sendiri.

Jika anak merasa direspon negatif teman lainnya, terkadang bukan karena ia salah, bisa jadi terdapat salah satu dari empat hal di atas menjadi karunia yang dimilikinya.

Oleh sebab itu sikap rendah hati saat berinteraksi sesama teman bisa meredam rasa itu, dan orang tua di rumah mencoba agar tidak tampak pilih kasih terhadap salah satu anaknya sehingga tidak menimbulkan rasa iri anak lainnya.

Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 MI Mirfa'ul Ulum - Yayasan Baitul Quddus Semarang