Ingin Kaya atau Mengabdi Negara?
Kepala Madrasah memberi masukan agar SiNAU dioptimalkan untuk meningkatkan semangat belajar anak, di awal pembukaan disampaikan sebuah kisah menarik, tentang mahasiswa pascasarjana.
Saat memaparkan rencana penelitiannya yang berjudul "Pengaruh Gaji terhadap Kinerja Pegawai", dosen penguji tersenyum tipis lalu memberikan kritik tajam yang sarat makna:
"Memangnya kamu pikir kalau ingin kinerja pegawai naik, perusahaan harus selalu menaikkan gaji duluan? Di dunia nyata, kalau pegawai tidak mau berkinerja sebelum gajinya naik, yang ada justru dipecat."
Sang dosen melanjutkan penjelasannya. Bagi pekerja dengan gaji tetap seperti Pegawai Negeri Sipil (ASN), standar gaji sudah ada aturannya sejak hari pertama diterima. Kewajibannya adalah taat aturan, disiplin, dan bekerja tulus. Jika lalai atau indisipliner, risikonya adalah sanksi hingga pemecatan.
Hakekat profesi ASN dan abdi negara adalah pengabdian, bukan untuk mengejar kekayaan materi berlimpah. Jika kita melihat daftar orang-orang terkaya di Indonesia maupun dunia, jalur mereka bukanlah pegawai bulanan, melainkan wirausaha dan pencipta karya. Jika orientasi hidup adalah ingin kaya raya namun jalurnya memilih menjadi pegawai kantoran biasa, sejak awal jalurnya sudah keliru.
Lalu, apa kaitannya kisah ini dengan anak-anak kita di madrasah?
Dunia usaha dan dunia pendidikan memandang kata "profit" (keuntungan) dari sudut yang berbeda:-
Bagi perusahaan swasta, profit adalah laba materi dan rupiah.
-
Bagi sekolah dan orang tua, profit sesungguhnya adalah hasil belajar, akhlak, dan kecakapan anak.
Dunia masa depan anak-anak kita menuntut keunggulan nyata. Mereka yang mandiri dan sejahtera secara finansial adalah mereka yang memiliki kreativitas dan inovasi: mampu membuat produk unggulan, unik, dan sangat dibutuhkan masyarakat—seperti perancang teknologi, pembuat gawai, laptop, kendaraan, hingga inovasi layanan lainnya. Orang-orang dengan keahlian inilah yang memiliki nilai tawar tinggi dan bisa menentukan nilai karyanya sendiri.
Keunggulan dan mental pemenang seperti itu tidak lahir tiba-tiba saat dewasa. Benihnya ditanam sejak bangku sekolah dasar
-
Latih anak tulus dan disiplin saat belajar, bukan hanya mau bergerak jika diiming-imingi imbalan materi.
-
Dukung rasa ingin tahu dan kreativitas anak, agar mereka tumbuh menjadi pemecah masalah, bukan sekadar penunggu perintah.
-
Tanamkan kesungguhan menuntut ilmu, karena keahlian besar masa depan berakar dari fondasi dasar yang kokoh hari ini.
Mari bersama-sama mendampingi putra-putri kita agar mereka tidak hanya bercita-cita "mencari kerja", tetapi tumbuh menjadi generasi berilmu yang mampu menciptakan nilai, berbakti bagi sesama, dan berdaya saing tinggi.